Posts

Sulitnya menembus dinding BIN di pengungkapan kasus Munir

Image
Bekerja di bawah aturan non-projusticia seolah menjadi 'kegeraman' tersendiri bagi mantan anggota Tim Pencari Fakta, Hendardi. Meski mengantongi nama-nama yang diduga terlibat kuat dalam kasus pembunuhan aktivis Munir Said Thalib, Hendardi dan anggota lainnya tidak diperbolehkan untuk mengungkapkannya ke publik. Tim Pencari Fakta merupakan lembaga non-projusticia. Sesuai Keppres No. 11 tahun 2004, mereka hanya bertugas untuk menelusuri fakta. Fakta itu dijadikan laporan yang diserahkan kepada kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.   Hendardi pun berharap agar Presiden Jokowi segera menemukan dokumen yang serahkan akhir Juni 2005 silam. Di dalam dokumen itu terdapat nama-nama yang diduga terkait kuat dalam kasus Munir.

Cerita dibalik raibnya dokumen asli pembunuhan Munir

Image
"Kasus Munir belum berhenti," pekik Direktur Imparsial Al Araf di kantor Imparsial, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (27/10). Disampingnya, dua mantan anggota Tim Pencari Fakta, Hendardi dan Amiruddin Al Rahab ikut mengamini.  Mereka mendesak agar Presiden Jokowi segera menemukan dokumen yang tidak jelas keberadaannya saat ini. Adapun dokumen itu sudah diserahkan kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara beberapa tahun silam.

Otak dibalik pengubahan naskah Sumpah Pemuda

Image
Minggu 28 Oktober 1928, ratusan pemuda berkumpul di Gedung Oost-Java Bioscoop, Batavia. Sejarah mencatat, di tempat ini lah dibacakan naskah Sumpah Pemuda, sebuah ikhtiar yang lahir untuk memperkuat persatuan dan kesatuan para pemuda dari berbagai daerah. Konges Pemuda II inilah diyakini sebagai benih awal cita-cita berdirinya negara Indonesia. Awalnya pertemuan itu disebut 'Kerapatan Pemuda II' yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Kerapatan Pemuda I pada awal Mei 1926. Namun, karena belum menemukan kesepakatan, direncakan adanya kongres yang kedua.

Jejak Irman Gusman di kasus suap impor gula

Image
Sabtu 9 Oktober 2016, pukul 01.00 WIB dini hari, mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman baru saja menerima kedua tamunya, Direktur Utama CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto, dan istrinya, Memi. Bersama istrinya, Irman memeriksa kondisi rumah karena sudah larut malam. Sejurus kemudian, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangi rumah terletak di Jalan Denpasar C3 Nomor 8, Setiabudi, Jakarta Selatan. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB. Xaveriandy dan Memi tak berkutik di tengah barisan penyidik KPK itu.

'Menjerat pengaruh Irman Gusman dengan hukum' di kasus suap impor gula

Image
Kasus dugaan suap terkait lobi penambahan kuota seribu ton gula di Sumatera Barat menjegal mantan Ketua DPD, Irman Gusman. Irman tersohor sebagai salah satu pegiat anti- korupsi di Indonesia diduga menerima sogokan Rp 100 juta dari CV Semesta Berjaya. Uang disimpan dalam sebuah bungkusan itu diberikan langsung oleh pemilik CV SB, Xaveriandy Sutanto, dan istrinya, Memi, di kediaman Irman di Jalan Denpasar C3 Nomor 8, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (17/9). Selepas ditangkap tangan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan ketiganya sebagai tersangka.

Dusta penyiksaan para jenderal korban peristiwa 1965

Image
"Penderitaan itu pedih jenderal, pedih. Coba rasakan sayatan silet ini, juga pedih tapi tidak sepedih penderitaan rakyat," kata seorang perempuan. Dia pun mulai menyayatkan silet itu pada wajah Mayjen Soeprapto. Kisah penyiksaan para jenderal ini menjadi warna dalam Pengkhianatan G30S/PKI besutan sutradara Arifin C. Noer. Film yang wajib ditonton setiap 30 September di era Orde Baru ini mengisahkan penyiksaan yang dilakukan anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) kepada para jenderal.

Nasib rumah para jenderal korban peristiwa 65

Image
Dini hari, 1 Oktober 1965, Pasukan Cakrabirawa menyantroni tujuh rumah jenderal TNI Angkatan Darat secara serentak. Mereka berdalih membawa pesan Presiden Soekarno, menuntut petinggi militer yang mereka jemput untuk ikut tanpa bertanya-tanya lagi. Belakangan baru diketahui enam jenderal dibawa ke sumur tua di Desa Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Dari ketujuh jenderal ini, hanya Letjen A. H Nasution yang selamat. Sementara enam jenderal lainnya yakni Letjen A. Yani, Mayjen Raden Suprapto, Mayjen Mas Tirtodaro Haryono, Mayjen Siswondo Parman, Brigjen Donald Isaac Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo ditemukan tewas di Lubang Buaya.