Posts

Pak Kinong dan geliat membangun literasi jalanan di Jakarta

Image
Jakarta terasa panas siang itu. Di gang-gang sempit di kawasan Karet, Jakarta Pusat beberapa ibu muda dan anaknya yang kecil sibuk membeli es batu. Di arah lain, dua lelaki tua terlihat baru saja berkemas di depan sebuah warung. Keduanya mengumpulkan pion-pion catur berserakan. Di gang sempit inilah sehari-hari Sutino (51), hidup bersama istri dan keempat anak mereka. Sebagian warga di ibukota mungkin sudah mengenal sosok Kinong, panggilan akrab Sutino. Bemo tua disulapnya menjadi perpustakaan dan bioskop keliling. Lelaki ini mengabdikan diri menyediakan buku bagi anak-anak sekolah di kawasan Tanah Abang. Kinong berusaha mendekatkan anak-anak dengan buku-buku bacaan dibawanya tiap hari.

Hikayat jelata di Jakarta, nasib Pak Ogah mengais rezeki di jalan ramai

Image
Ucok (26) berharap rezekinya bertambah dua kali lipat. Pagi-pagi benar dia mengajak serta dua karibnya, Iman (27) dan Mamat (19). Setiba di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, ketiganya hanya melihat lalu lalang kendaraan roda dua. Jalan ramai tapi Ucok, Iman dan Mamat menelan ludah. "Sudah jam satu, hanya ramai dengan motor. Kami belum dapat neh," kata Mamat beberapa waktu lalu. Ketiga sahabat karib ini merupakan 'pengawal' jalan raya. Saban hari, mereka lazim disebut Pak Ogah atau 'Polisi Cepek'. Sebutan itu merujuk pada profesi mereka sebagai pengatur lalu lintas dengan modal nekat dengan komando tangan dan teriakan.

Hal ini yang membuat hati Lulung teriris-iris karena status tersangka Ahok

Image
Haji Abraham Lunggana kelihatan makin sewot dengan status Basuki Tjahja Purnama (Ahok) sebagai tersangka. Haji Lulung, demikian sapaan akrabnya sama seperti FPI dan MUI yang berharap penuh agar Ahok segera dijebloskan ke penjara. Mereka seperti kurang percaya dengan proses hukum yang sedang berjalan. Saya menilai Haji Lulung lagi curi pandang dan cari perhatian baru di media. Maklum selama kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok bergulir, Lulung hampir dan atau kurang diliput media. Tak terdengar celoteh-celotehnya yang bikin orang ngakak bukan kepalang.

Norak tau, samakan Yesus dengan Ahok

Image
Ada fenomena baru Ahokers di Pilkada DKI 2017. Fenomena itu tak lain adalah menyamakan Basuki T Purnama (Ahok) dengan pribadi Yesus. Mereka menyebut Ahok itu orang terpilih seperti Yesus. Bahkan ada juga yang menyebut Ahok adalah pemenuhan nas Injili. Anda tidak percaya, silakan buka Facebook . Status itu bertebaran di mana-mana. Hal itu juga membuat saya tertarik menulis ini. Awalnya hanya memaklumi saja. Tapi kemudian salah seorang sahabat saya mulai mengkritisi fenomena itu. Saya sepakat dan mulai mencari lead yang cocok. Akhirnya jadi seperti apa yang anda baca barusan: fenomena arkaik agamawi. Skenario dukungan yang kurang tepat dan bahkan menjual-jual nama agama. Tidak apa-apa misalnya ayat Injil itu dibuat untuk menghibur Ahok yang saat ini sudah jadi tersangka.

Apakah suntik mati boleh dilakukan untuk pasien terminal?

Image
Humaidah (46) terbaring lemah dan tak berdaya di kamar perawatan. Lima tahun tujuh bulan lamanya dia menahan ringkih dalam kesakitan. Dia masih hidup dalam bola-bola mata yang bergerak. Hanya itu yang mampu dia lakukan. Humaidah tak lebih dari mayat hidup di RSUD Panglima Sebaya Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Suami, anak dan keluarganya nyaris pasrah. Permohonan suntik mati kepada Mahkamah Agung (MA), menjadi jalan terakhir keluarga agar Humaida benar-benar bisa lepas dari derita yang dialaminya.

Menyingkirkan Ahok dalam kata dan pribadinya

Image
Kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok masih bergulir.  FPI dan MUI tetap berharap jika Ahok dinyatakan bersalah. Tapi FPI  termasuk lawan politik Ahok terlihat seperti ketar-ketir. Itu bisa dilihat ketika Ahok dan orang di lingkarannya berencana membawa ulama dari Saudi Arabiah, Syekh Amr Wardani. Ulama Al-Azhar ini rencananya dijadikan saksi ahli dalam kasus dugaan penistaan QS Almaidah 51 ini.

Ketika mayoritas 'menyandera' Jokowi karena Al-Maidah 51

Image
Basuki T Purnama alias Ahok tersandera kasus dugaan penistaan agama. Elektabiltasnya merosot menurut sebuah lembaga survei, LSI. Jika survei bulan Maret lalu elektabilitas Ahok sebesar 59,3 persen, di bulan November menjadi 24,6 persen. Tapi yang cukup sibuk dan bahkan mendapat imbas dari kasus Ahok adalah Presiden Jokowi. Dia didesak untuk tidak melindungi Ahok. Maka usai aksi 411 lalu, sang Presiden terlihat bolak-balik, keluar-masuk Istana Merdeka.